Pengaruh Gizi Buruk Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Pada Anak Balita.

Pengaruh Gizi Buruk Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Pada Anak Balita. – HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU, UMUR KERJA DAN RIWAYAT PENYAKIT MENULAR ANAK USIA 6-23 BULAN DI KABUPATEN MALILI KABUPATEN LUVU TIMUR

HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU, USIA KERJA DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI TERHADAP KEJADIAN PEMULIHAN ANAK USIA 6 – 23 BULAN DI KECAMATAN MALILI KABUPATEN LUVU TIMUR.

Pengaruh Gizi Buruk Terhadap Kejadian Penyakit Infeksi Pada Anak Balita.

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang penyebabnya dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Kurangnya pengetahuan gizi dan pola asuh yang tidak tepat, serta riwayat penyakit menular, dapat menjadi faktor terjadinya stunting di bawah usia lima tahun. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi, pola asuh dan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian keterlambatan.

Faktor Risiko Gizi Kurang Pada Balita Di Puskesmas Paal V Kota Jambi

Penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode cross sectional. Populasi adalah 738 dan sampel terdiri dari 260 anak usia 6-23 bulan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dan dipilih dengan simple random sampling. Pengolahan data bivariat menggunakan uji chi-square dengan nilai α = 0,05 dan analisis multivariat dengan regresi logistik berganda.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian keterlambatan adalah pengetahuan gizi ibu yang buruk (p = 0,01), pola asuh yang buruk (p = 0,000) dan riwayat infeksi diare (p = 0,000) dan ISPA (p = 0,016). Tidak ada hubungan antara pola asuh sehat (p=0,765) dengan kejadian keterlambatan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa riwayat diare merupakan faktor risiko dan 3.510 kali meningkatkan pertumbuhan anak. Kebersihan perorangan harus ditingkatkan dan sanitasi lingkungan harus dijaga untuk mencegah diare pada anak. Provinsi Sulawesi Tengah Eka Prasetia Hati Baculu, M.Juffrie, Siti Helmyati ©2015 Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics Pembimbing : Dr. Joseph Leonardo Samudra Disusun oleh: Franciscus MAGANG ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Buwana

4 Masalah gizi adalah gangguan pada beberapa aspek kesejahteraan individu dan/atau masyarakat yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan gizi melalui makanan. Bayi dan anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap masalah gizi. Kekurangan gizi pada anak balita dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu penyebab langsungnya adalah kekurangan gizi dan adanya penyakit infeksi. Sebuah laporan tahun 2013 oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Donggal menemukan bahwa 14,6% balita di Kabupaten Donggal kekurangan gizi.

8 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain case control. Penelitian ini membandingkan 64 balita dengan status gizi buruk dengan z-score BB/U <-3 SD pada kelompok kasus dan 64 balita dengan status gizi baik dengan z-score BB/U -2 sampai 2 SD. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Dampel, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Kontrol dipilih dari populasi yang sama dimana kasus dan jenis kelamin dicocokkan dan rasionya adalah 1:1.

Pertemuan Koordinasi Program Gizi Di Kota Pare Pare

9 Metode Penelitian Variabel terikat adalah kejadian gizi buruk pada balita. variabel bebas adalah tingkat asupan energi, tingkat asupan protein, riwayat penyakit infeksi, dan pola asuh. Variabel eksogen adalah pendidikan ayah, pendidikan ibu, pengetahuan gizi ibu, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) dan ASI eksklusif. Instrumen penelitian berupa kuesioner wawancara terstruktur, instrumen penimbangan berat badan bayi menggunakan dacin yang telah dikalibrasi sebelumnya, recall 24 jam digunakan untuk mengetahui tingkat asupan energi dan protein.

10 Metode Penelitian Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis univariat, analisis bivariat menggunakan chi-square dengan selang kepercayaan (95% CI) dan tingkat kemaknaan p<0,05 Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik berganda dan dilakukan analisis stratifikasi dengan menggunakan Mantel- uji Henzel.

13 Tabel 1 Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa riwayat BBLR berbeda bermakna antara kelompok kasus dan kontrol (p0,05). Menunjukkan bahwa kelompok kasus dan kelompok kontrol memiliki distribusi karakteristik yang sama

15 Gambar 1. Terlihat bahwa rata-rata RDA % tingkat asupan energi bayi gizi buruk 10,34% lebih rendah dibandingkan bayi yang diberi makan normal. Rata-rata % asupan protein AKG juga menunjukkan bahwa asupan protein anak balita gizi buruk 21,51% lebih rendah dibandingkan asupan protein anak yang mendapat diet normal.

Stunting And Tuberculosis: Bagaimana Hubungannya?

17 Tabel 2 Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat asupan energi dengan riwayat penyakit infeksi dan frekuensi gizi buruk (p0,05).

19 Tabel 3 Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan ibu, pendidikan ayah, pengetahuan gizi, jumlah anggota keluarga, ASI eksklusif dan pendapatan keluarga dengan frekuensi gizi buruk (p>0,05). Terlihat bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara BBLR dengan kejadian gizi buruk dengan nilai OR sebesar 5,43 (p<0,05). Anak dengan berat badan lahir rendah berpeluang 5,43 kali lebih besar untuk mengalami kekurangan gizi dibandingkan dengan anak dengan berat badan lahir normal.

21 Tabel 4 Analisis ini dilakukan dengan menguji hubungan antara variabel independen dan variabel dependen setelah mengontrol outlier dengan nilai p <0,25 pada analisis bivariat. Variabel dengan p<0,25 adalah asupan energi, asupan protein, penyakit infeksi, pola asuh, berat badan lahir rendah, pendidikan ayah dan pengetahuan gizi.

23 Tabel 5 dan 6 Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel BBLR merupakan variabel confounding untuk hubungan antara tingkat asupan energi dengan kejadian gizi buruk pada balita. Hal ini terlihat dari hasil raw OR dengan Mantel-Haenszel OR yang memiliki selisih lebih dari 20% yaitu 26,1%. Tabel 6 menunjukkan hasil OR kasar dengan OR Mantel-Haenszel selisihnya lebih dari 20% yaitu 25,12%, sehingga variabel berat merupakan variabel confounding untuk hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian malnutrisi pada anak kecil.

Gizi Buruk Bayi Dan Balita 2

Tabel 2  Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat konsumsi energi dengan kejadian gizi buruk pada bayi. Tabel 4  Analisis multivariat: Variabel BBLR secara bersama-sama, mengingat variabel BBLR memiliki p<0,25 pada analisis bivariat, menunjukkan nilai OR sebesar 9,86 Tabel 4  Anak kecil dengan berat badan lahir normal (≥2500 g) dapat mengalami penurunan risiko gizi kurang sebesar 5,76 kali bayi dengan riwayat BBLR (<2500 g)

Penelitian oleh Nurlila UR menunjukkan bahwa anak kecil dengan asupan energi rendah lebih cenderung mengalami malnutrisi dibandingkan anak kecil dengan asupan energi cukup. Kajian Mustapa Y et al  ada hubungan asupan energi dengan status gizi dan asupan energi merupakan faktor risiko malnutrisi. Susanty M et al  penelitian menunjukkan bahwa asupan energi total berhubungan dengan kejadian malnutrisi dan merupakan faktor risiko.

Glukosa total dan diet tidak tersedia  Lipid dan protein diubah menjadi glukosa baru  katabolisme  energi. *Jalur glikogenesis anak  Metabolisme sama dengan orang dewasa, tetapi mereka berkembang lebih aktif, sehingga pertumbuhan membutuhkan asupan nutrisi. Gejala yang terjadi saat anak kekurangan gizi antara lain: kurang perhatian, gelisah, lemas, menangis, kurang semangat dan daya tahan tubuh menurun terhadap penyakit menular.

29 Tabel 5  Hasil analisis stratifikasi menunjukkan bahwa variabel berat badan merupakan variabel confounding dalam hubungan antara tingkat asupan energi dengan kejadian gizi buruk pada balita. Hal ini terlihat dari perbedaan antara OR mentah dengan OR Mantel-Haenszel lebih dari 20%. Hal ini bisa disebabkan oleh organ tubuh bayi BBLR yang belum matang sehingga jika dipaksakan untuk mendapatkan berat badan yang sama dengan bayi normal akan merusak organ tubuhnya.

Hubungan Pekerjaan Dan Kondisi Sosial Budaya Dengan Status Gizi Masyarakat Di Desa Lawallu Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru

Tabel 2 Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan protein dengan kejadian gizi buruk (p>0,05) Tabel 4  Demikian pula pada analisis multivariat, memasukkan variabel berat badan secara bersama-sama menunjukkan OR. nilai 1, 18. Penelitian ini didukung oleh 2 penelitian: Mustapa Y, et al Susanty M, et al. Tidak ada hubungan antara tingkat konsumsi protein dengan kejadian gizi buruk di Gorontalo dan Makassar.

Le HT, dkk Lutviana E Nurcahyo K Namun rata-rata konsumsi energinya rendah, sehingga pada saat tubuh kekurangan energi, fungsi protein lebih diutamakan untuk menghasilkan energi atau membentuk glukosa. Kekurangan asupan protein yang berkepanjangan dapat menyebabkan kwashiorkor pada anak di bawah usia lima tahun. Tidak ada hubungan antara asupan protein dengan kejadian gizi buruk, karena rata-rata asupan protein pada kelompok kasus (anak gizi buruk) cukup.

Tabel 2  ada hubungan bermakna antara riwayat penyakit infeksi dengan kejadian gizi buruk pada balita (p<0,05). Penelitian ini didukung oleh 2 penelitian sebelumnya oleh Ngallab Ulfani. Tabel 4  analisis multivariat yang meliputi variabel berat badan, pendidikan ayah dan pengetahuan gizi ibu secara bersama-sama menunjukkan nilai OR sebesar 2,83. Penyakit infeksi merupakan faktor penentu terjadinya gizi buruk

33 Tabel 4  Bayi dengan berat badan lahir normal dapat menurunkan risiko malnutrisi sebesar 5,76 kali dibandingkan dengan bayi dengan riwayat BBLR. Tabel 4  Anak kecil yang ayahnya berpendidikan tinggi dapat mengurangi risiko malnutrisi sebesar 2,97 kali dibandingkan dengan anak yang ayahnya berpendidikan rendah. Tabel 4  Balita yang ibunya memiliki pengetahuan gizi yang baik dapat mengurangi risiko gizi buruk 1,68 kali lebih banyak dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.

Permasalahan Stunting Dan Obesitas Anak Pada Masa Pandemi

34 Tabel 6  Hasil analisis stratifikasi menunjukkan hubungan antara riwayat penyakit menular dengan kejadian gizi buruk pada balita dengan variabel berat badan sebagai variabel perancu. Hal ini terlihat dari nilai OR minyak mentah dan OR Mantel-Haenzel diatas 20%. Bayi BBLR akan lebih rentan terhadap penyakit karena daya tahan tubuhnya yang belum sempurna sehingga membuatnya lebih rentan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi.

Tabel 2  tidak ada hubungan pola asuh dengan kejadian gizi buruk (p>0,05). Tabel 4 analisis multivariat yang meliputi variabel BBLR, pendidikan ayah dan pengetahuan gizi ibu secara bersama-sama menunjukkan

Skripsi pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan pelanggan pada rumah makan, pengaruh gizi terhadap kesehatan, skripsi pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan konsumen pada hotel, gizi buruk pada remaja, cara mengatasi gizi buruk pada orang dewasa, pengaruh gizi terhadap daya tahan tubuh, pengaruh infeksi saluran kemih terhadap kehamilan, gizi pada anak balita, gizi buruk pada orang dewasa, pengaruh gizi terhadap pertumbuhan dan perkembangan, cara mengatasi gizi buruk pada remaja, gizi buruk pada balita

By admin